Anakku Sayang... Tuntutlah Ilmu Menuju ke Syurga



Sebelum Islam datang, masyarakat di Mekkah al-Mukarromah diliputi  kegelapan, perzinahan yang bertebaran, perkelahian dan  peperangan sering berkecambuk, kecurangan dan kebohongan membudaya, membunuh anak wanita hal yang lumrah, penyembahan berhala patung marajalela, minum minuman keras dan saling mengejek sangat membudaya sehingga memicu terjadinya konflik diantara para kabilah dan suku.

Kemudian setelah Islam datang dibawa oleh Nabi Muhammad saw diajarkan dan diterapkan pada masyarakat, maka masyarakat tersebut mengalami perubahan yang luar biasa cepatnya, kebudayaan jahiliyah dan masyarakat yang rusak bisa dirubah dengan cepat yaitu dengan Islam.

Kita sebagai orang tua harus menyadari bahwa dengan mengajarkan dan mengamalkan Islam-lah  anak kita bisa berubah lebih baik,  begitu juga keluarga kita, bisa berubah lebih baik dari sebelumnya, jika Islam sebagai  fokus utama dalam pendidikan anak-anak , Insya Allah, kita telah mendapatkan warisan dari Nabi Muhammad saw sebab nabi tidak mewarisi harta namun mewarisi ilmu yakni ilmu Islam. Jika ilmu islam dipelajari maka akan mengantarkan penuntut ilmu ke surga , di ampuni dan diangkat derajatnya oleh Allah swt.

Abu darda ra berkata, “ Aku mendengar Rasulullah saw bersabda :
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Barangsiapa yang menempuh jalan menuntut ilmu, niscaya Allah akan bukakan baginya salah satu jalan menuju surga. Sesungguhnya para malaikat benar-benar meletakkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu. Sesungguhnya orang yang berilmu benar-benar akan dimintakan ampun oleh semua penduduk langit dan bumi, bahkan ikan yang ada di dasar air. Sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu atas ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan pada malam purnama atas seluruh bintang. Sesungguhnya ulama adalah pewaris nabi. Sesungguhnya para nabi itu tidaklah mewariskan dinar maupun dirham, tetapi mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa yang mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang besar”.

Kita juga tidak boleh meninggalkan aktivitas menuntut ilmu apalagi ilmu-ilmu islam, sebagaimana para sahabat menasehati kita sebagai  ummat islam.  Ali bin Abi Tholib ra berkata, Ilmu itu lebih baik dari harta, sebab ilmu akan menjagamu, sedangkan kamu yang akan menjaga harta, ilmu sebagai pemutus perkara, sedangkan harta adalah diputuskan perkara (maksudnya yang dikelola). Para penjaga harta akan mati, sedangkan para penjaga ilmu akan tetap hidup. Jasad mereka memang mati, tetapi kepribadian mereka akan tetap ada dalam hati”. (Adabu Ad-Dunya wa Ad-din Karya Hasan Al-Mawardi (wafat 450H) hal 48). Mereka begitu memuliakan ilmu bagaimana dengan kita?

Dari Muadz bin Jabal ra ia berkata, “ Pelajarilah ilmu, sebab mempelajari ilmu karena Allah adalah Khosyyah (bukti takut kepada-Nya). Mencarinya adalah Ibadah. Mengulangnya adalah tasbih. Membahasnya adalah jihad. Mengajarkannya kepada orang yang tidak tahu adalah shodaqoh, melayani orang yang berilmu adalah taqorrub (Jami’u Bayaani ‘Ilmi wa Fadhilihi, karya Ibnu Abdil Barr Al-Qurthubi (wafat 463H)( I/52)

Bahkan Umar bin Khothtob berkata “ sesungguhnya akan ada seseorang yang keluar dari rumahnya dengan membawa dosa seperti gunung Tihamah, ketika ia mendengarkan ilmu (islam), maka ia merasa takut, lantas pulang dan bertaubat. Ia masuk ke dalam rumahnya dengan tidak memiliki dosa sama sekali. Maka, janganlah kalian tinggalkan majelis-majelis para ulama (orang yang berilmu).

Bahkan kita terus memberikan semangat menuntut ilmu sebagaimana Hasan al-Basri ra pernah ditanya tentang seseorang yang telah berusia 80 tahun, “apakah ia masih layak untuk menuntut ilmu?” Ia menjawab, “Dia masih layak untuk menuntut ilmu, selagi ia masih layak untuk hidup.

Pada masa para Khalifah, hukum Islam diterapkan secara menyeluruh diberbagai bidang,sehingga banyak melahirkan ulama-ulama besar yang banyak sekali dijadikan rujukan pondok-pondok pesantren,  ormas-ormas  Islam diseluruh dunia, seperti Imam Malik, Imam Syafi’I, Imam Ahmad, Imam Abu Hanifah, mereka adalah ulama yang  dididik dengan Islam sejak kecil sehingga ilmu mereka semakin  luas, bahkan mereka cepat dewasa jika dibanding anak sekarang, dahulu imam Syafii pada usia remaja sudah dijadikan tempat bertanya bagi masyarakat bagaimana anak sekarang tentu sangat jauh, itu tidak lain disebabkan mereka jauh dari ilmu-ilmu Islam maka solusinya mereka harus didekatkan ilmu-ilmu Islam sebagaimana para ulama terdahulu.

Kita sebagai orang tua Jangan lupa menasehati anak-anak kita agar mengamalkan ilmunya setelah mempelajari sebagaimana sabda Rasulullah saw :
مَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ مِنْ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتْ الْمَاءَ فَأَنْبَتَتْ الْكَلَأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتْ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لَا تُمْسِكُ مَاءً وَلَا تُنْبِتُ كَلَأً فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ
"Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang aku diutus oleh Allah dengannya adalah seperti hujan deras yang mengenai tanah. Diantara tanah itu ada yang subur yang akan menyerap air dan menumbuhkan rerumputan yang sangat banyak. Ada juga tanah yang keras (tidak subur) yang bisa menampung air, lalu Allah menjadikannya bermanfaat bagi manusia sehingga mereka  bisa minum, menyirami tanaman dan bercocok tanam. Ada pula kelompok lain seperti tanah tandus yang tidak bisa menampung air dan tidak bisa menumbuhkan rerumputan, itulah perumpamaan orang yang mempelajari agama Allah, dimana petunjuk yang aku bawa akan bermanfaat baginya, lalu ia berilmu dan mengajarkannya, juga perumpamaan orang yang tidak pernah mengangkat kepalanya untuk itu, serta orang yang tidak mau menerima petunjuk Allah yang aku bawa."

Tidak diragukan lagi bahwa sangat berbeda antara orang yang menempuh jalan ilmu lalu mengambil manfaat darinya dan orang-orang pun dapat mengambil manfaat darinya dengan  orang yang puas dengan kebodohan dan hidup dalam kegelapan, sehingga ia tidak mendapatkan sedikitpun dari warisan para nabi (ilmu Syariat).

Oleh karena itu, kita dan anak-anak kita wajib diarahkan seperti perumpamaan tanah yang subur yakni berilmu dan mengamalkannya. Kalau tidak dari sekarang, kapan lagi…?
Share on Google Plus

About athffaluna

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar